
WOW ONE IS NUMBER ONE
Waktu menunjukkan pukul 07.00.Saat yang sangat krusial di SMA Ma’arif NU Jatinegara. Dalam perjalanan saya terkadang harus rush dengan anak-anak untuk mencapai gerbang sekolah sebelum jam 07.15. Sebab tepat pukul 07.15 gerbang sekolah sudah ditutup, dan tidak ada toleransi bagi siapapun. Siswa, guru ataupun karyawan yang terlambat terpaksa harus memarkir kendaraannya di luar sekolah.
Suasana terburu-buru sering membuat nafas tersengal dan tenggorokan pun terasa kering. Tapi bergitu sampai di ruang guru rasa tidak nyaman itu segera lenyap, karena segelas teh seduh buatan Wawan sudah ready di atas meja. Tegukkan teh hangat segera membasahi tenggorokkan yang kering. Otot dan syaraf tegangpun menjadi kendor. Semangat masuk kelas untuk pun bergelora.
Adalah wawan, seorang siswa kelas XII yang setiap pagi tidak pernah absen menyiapkan teh hangat untuk para guru di SMA Ma’arif NU Jatinegara. Selama satu tahun saya berada di sekolah ini belum pernah saya harus menahan haus gara-gara tidak ada air minum di atas meja. Wawan memiliki komitmen dan tanggungjawab yang luar biasa di usianya yang masih remaja.
Meskipun prestasi akademiknya tidak luar biasa, tetapi wawan bukanlah siswa yang prestasinya di bawah rata-rata. Sayang, kadang Wawan sedikit malas belajar dan mudah menyerah. Beberapa kali ia tidak mengikuti pelajaran saya dan tidak mengerjakan tugas. Sungguh, apabila Wawan belajar lebih giat ia pun akan dapat mencapai prestasinya yang maksimal.
Wawan memiliki wajah yang lumayan ganteng. Tetapi, Wawan sesekali terlihat minder di depan teman-temannya, apalagi bila melihat temannya yang berpenampilan sok bergaya dan terkadang tidak menampilkan diri sebagai seorang pelajar. Meski begitu, ia mampu menyembunyikan perasaannya itu. Ia tetap berteman dengan siapa saja, bahkan menurut informasi, ia sempat membuat adik kelasnya tertarik dan jatuh hati. Perasaan minder itu sungguh suatu hal yang wajar, apalagi bagi seorang Wawan yang usianya yang baru menginjak 17 tahun.
Kepada setiap guru, Wawan adalah siswa yang sangat hormat dan berbakti. Ia tidak pernah menolak setiap guru meminta bantuan. Setiap saat ia selalu siap untuk membantu guru dengan penuh keikhlasan. Kalaupun sesekali membantunya sambil menggerutu barangkali karena sang guru terlalu sering meminta bantuan. Kalau saja keikhlasan Wawan dapat ditingkatkan, insya Allah ilmu yang bermanfaat akan Wawan peroleh dan surga pun menanti Wawan.
Sekarang wawan hampir menyelesaikan studinya di SMA Ma’arif NU Jatinegara. Cita-citanya ingin merantau ke Jakarta dan menjadi pengusaha sukses. Bagaimana nasib para guru bila Wawan sudah lulus sekolah. Lalu, siapakah yang akan menggantikan Wawan? Masih adakah Wawan lain di Indonesia? Selamat jalan Wan, semoga masa depan yang cerah dapat kau raih. Amin.
Cerih, 25 April 2010
